Sejarah Pulau Bali



Pulau Bali dan Jawa yang kini dipisahkan oleh Selat Bali / Segara Rupek. Yang konon dulunya Pulau Bali dan Jawa menjadi satu kepulauan. Apakah itu mungkin? mungkin kalian akan berfikir itu adalah sesuatu yang mustahil. Kita akan membahasnya mulai dari cerita yang turunkan dari kakek nenek leluhur.

Mulai dari kisah Resi Markandeya yang membawa rombongan sebanyak 4000 pengikut untuk membangun Pura Besakih. Dalam kisah itu diceritakan bahwa mereka menuju Bali tanpa menyeberangi sebuat Selat Bali menggunakan perahu karena pada saat itu pulau bali dan jawa masih menjadi satu. Kemudian terdapat sebuah kisah dalam sejarah Nusantara ini, bagaiamana Pulau Bali dan Jawa akhirnya terbelah dipisahkan oleh Selat Bali.



Menurut uraian sebuah kitab bernama “Usana Bali” , bahwa putusnya pulau Jawa dengan pulau Bali, adalah disebabkan kesaktian seorang Pendita bernama Mpu Sidhimantra. Pendita itu bertempat tinggal; di Jawa Timur, kersahabat karib dengan seekor ular besar yang bernama “NAGA BASUKIH “ Naga itu berliang didesa Besakih yang terletak dikaki Gunung Agung, merupakan sebuah goa besar yang dianggap suci. Karena persahabatan itu Mpu Sidhimantra setiap bulan purnama selalu datang ke Besakih bertemu Naga Basukih dengan membawa madu, susu dan mentega, untuk sahabatnya itu. Mpu Sidhimantra mempunyai anak bernama Ida Manik Angkeran, anaknya tersebut sangatlah suka berjudi meski sudah dilarang oleh ayahnya. Ida Manik Angkeran akhirnya pun sering mengalami kekalahan saat berjudi.

Pada saat bulan purnama kembali tiba Mpu Sidhimantra mengalami jatuh sakit. Sehingga secara diam-diam Ida Manik Angkeran tanpa ijin orang tuanya pergi ke Bali menemui Naga Basukih. Sampai disana ia lalu duduk bersila sambil membunyikan “bajra” yang dibawanya itu sehingga Naga Basukih keluar dari liangnya. Atas pertanyaan ular besar itu, Ida Manik Angkeran lalu menerangkan, bahwa ayahnya masih sakit, oleh karena itu ia menjadi wakilnya membawa madu, susu dan mentega, yang biasa dihidangkan oleh ayahnya setiap bulan. Naga Basukih dengan senang hati menerima pemberian dari Ida Manik Angkeran. Kemudian Naga Basukih bertanya kepada Ida Manik Angkeran , apakah yang diinginkan untuk bekal dalam perjalanan pulang. Ida Manik Angkeran tidak meminta apapun hanya meminta silahkan Naga Basukih kembali masuk kedalam Goa terlebih dahulu.

Ketika itulah Ida Manik Angkeran melihat sebuah permata yang indah berada di ekor Naga Basukih. Dia pun berpikir permata itu akan cukup digunakan untuk bisa berjudi seumur hidupnya. Akhirnya Ida Manik Angkeran nekat memotong ekor dari Naga Basukih dan mengambil permatanya kemudian lari. Akan tetapi akhirnya Ida Manik Angkeran mati karena hangus terbakar di dihutan “Camara Geseng” karena jejak kakinya dapat dijilat oleh kemarahan Naga Basukih.

Mpu Sidhimantra yang khawatir anaknya berhari-hari tidak pulang tanpa ada kabar. Akhirnya pun pergi mencarinya. Naga Basukih pun bercerita kepada Mpu Sidhimantra tentang apa yang sudah terjadi pada anaknya. Naga Basukih pun mengatakan bahwa anaknya bisa hidup kembali akan tetapi harus mengabdi di Pura Besakih sebagai abdi pura “pemangku” dan tinggal selamanya di Bali. Mpu Sidhimantra pun menyetujuinya dan anakanya kembali hidup.

Mpu Sidhimantra kembali ke Jawa untuk mencegah suatu waktu Ida Manik Angkeran kabur kembali ke Jawa lalu digoreskanlah tongkatnya, sehingga daratan pulau Bali dengan pulau Jawa menjadi putus karenanya. Demikianlah ceriteranya, asal mulanya ada Selat Bali yang disebut “SEGARA RUPEK” 

Kisah tadi merupakan sebuah penjelesan terpisahnya Pulau Bali dan Jawa, meski termasuk sebuah kisah takhayul ataupun dongeng akan tetapi kenyataannya adalah Keturunan Ida Manik Angkeran itu disebut “Ngurah Sidemen” ternyata sampai kini berkewajiban menjadi “Pemangku” di Pura Besakih.

Sedangkan penjelasan secara ilmiah menyebutkan bahwa pada zaman dahulu sebagian besar kepulauan Indonesia belum ada, masih bersatu dengan benua Asia, maka pada suatu ketika yaitu pada achir zaman es, konon katanya gunung-gunung es yang terdapat dikutub Utara dan dikutub Selatan menjadi cair, sehingga permukaan laut naik dan merendam daerah-daerah yang rendah. Oleh karena itu terjadilah lautan Tiongkok Selatan, laut Jawa, dan Selat Malaka. Kemungkinan ketika itulah terjadinya Selat Bali itu, lantaran dataran disana rendah, turut terendam air laut yang sedang pasang itu. Jika memang demikian halnya, sudah tentu putusnya Pulau Bali dengan Pulau Jawa itu terjadi beberapa ratus abad sebelum tahun Masehi.

Demikianlah kisah-kisah dan penjelasan yang dapat dikaitkan tentang Sejarah Pulau Bali dan Jawa Yang Dulu Menjadi Satu.


Sumber : http://inputbali.com/



Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel