Sejarah Perkembangan Islam di Guangzhou, China


Di Guangzhou, sejarah Islam di China bermula. Sebuah makam yang diyakini sebagai makam dari  penyebar Islam pertama di China,  terletak di kawasan tersebut. Juga sebuah masjid yang diperkirakan berusia 1300 tahun. 


 SEORANG lelaki usia 30-an melongok malu-malu dari balik pintu Masjid Huaisheng. Sejak tadi ia berada di situ. Mengamati orang lalu lalang di depan masjid, entah yang berniat shalat ataupun yang sekadar mengamati detil arsitektur masjid dengan kamera di tangan. 

Lelaki itu, dengan jubah warna biru dan kopiah  putih di kepalanya, serta jenggot panjang yang tumbuh di janggutnya, sama sekali tak tampak garang. Melihat senyum simpulnya, dan sorot di matanya, ia benar-benar jauh dari kesan tak ramah. Dengan isyarat tangan, ia  bahkan mengundang saya masuk ke masjid, dan mengambil gambar dari dalam. 

Menurut manuskrip tahun 1216, masjid ini dibangun atas inisiatif Sa’ad bin Abi Waqqas, paman Muhammad SAW dari pihak ibu. Abi Waqqas ini pula yang diyakini sebagai penyebar Islam pertama di daratan China.

Nama Huaisheng sendiri punya arti “kenangan untuk sang pemula” yang dibangun sebagai penghormatan untuk Muhammad SAW.

Huaisheng adalah satu dari empat masjid yang paling popular di China. Tiga lainnya adalah Yangzhou Crane, Quanzhou Kylin dan  Hangzhou Phoenix. Namun Huaisheng adalah yang tertua.

Belum diketahui pasti apakah masjid ini dibangun di masa Dinasti Tang atau awal pemerintahan Dinasti Song. Yang pasti, masjid ini dibangun lagi pada tahun 1350 di masa Dinasti Yuan di bawah pemerintahan Zhizheng (1341-1368) dan kemudian dibangun lagi di tahun 1695 di bawah Kaisar Kangzi pada masa Dinasti Qing.

Mirip dengan masjid Quanzhou, Hangzhou dan Yangzhou, arsitektur masjid Huaisheng  merupakan perpaduan dari  bangunan tradisional  suku Han dan style bangunan yang diimpor dari Arab.

Luas area masjid sekitar 3000 meter persegi. Pintu masuk masjid ini terletak di Guangta Road.  Dari luar tampak seperti bangunan biasa, kecuali tanda gerbang pintu masuk yang dibuat dengan  tumpukan bata merah dan menara yang menyembul di sisi kanan dari balik tembok. Di atas tembok ini tertulis huruf China yang menyebut bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan sejarah yang berada di bawah lindungan pemerintah.

Kompleks masjid ini terdiri dari koridor berbentuk U yang melingkupi halaman gedung yang dikelilingi tembok dan berakhir dengan dengan bangunan utama di dalam masjid. Bangunan utama masjid dibangun dengan beton pada tahun 1935. 

Masjid ini juga dinamai Light Tower Mosque karena memiliki sebuah menara yang pernah digunakan sebagai mercusuar untuk kapal-kapal yang berlayar di sungai Zhujiang. Para pelaut dulu sering memanjat menara ini untuk melihat kondisi cuaca.

Makam Sa’ad bin Abi Waqqas

Dari masjid ini, sekitar 10 menit  dengan bus, terletak makam Abi Waqqas. Tahun kedatangannya ke China masih jadi perdebatan. Ada yang menyebut bahwa ia datang ke China sekitar tahun 640 atau delapan tahun setelah meninggalnya Muhammad SAW, atas undangan Kaisar China, guna menyebarkan ajaran Islam. Namun ada juga data yang menyebut bahwa ia datang ke China saat Muhammad SAW masih hidup (tepatnya sekitar tahun 616) dan kemudian meninggal di negeri tersebut pada tahun 664 saat menginjak usia 80 tahun. 

Untuk memasuki makam Abi Waqqaas, pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar 100 meter dari pintu utama. Dan setelah  masuk pintu makam, ada dua pintu lagi yang mesti dilewati untuk menuju makam Abi Waqqaas. Makam tersebut ditempatkan dalam bangunan sehingga terlindung dari panas dan hujan. Di sekitarnya, ada sejumlah makam lainnya yang terlindung di bawah naungan pohon beringin.

Musa (60), seorang China Muslim yang merupakan salah satu penjaga makam tersebut, mengatakan bahwa setiap hari ada pengunjung yang datang ke makam itu dari berbagai negara.

Di dekat pintu masuk makam disediakan tempat untuk shalat. Persis di dekat mata air yang ditemukan 1300 tahun lampau. Air dari mata air yang kini dibikin pompa tersebut, masih kerap diminum oleh para pengunjung. Saya sempat mencicipnya.

Menurut Musa, kehidupan beragama di China cukup baik. Pemerintah menjamin warganya menjalankan ibadah agamanya. Musa mengaku menjadi Islam sejak umur 6 tahun dan sejak 16 tahun lalu, ia bekerja sebagai penjaga di makam Abi Waqqas. Ia mengatakan bahwa kebijakan pemerintah soal kehidupan beragama tak pernah berubah, bahkan saat politik China kini berada di bawah kepemimpinan Partai Komunis.

Saat ini, sebanyak 20 juta dari 1,3 miliar penduduk China adalah Muslim. Sebanyak 30.000 masjid dan ribuan restoran yang menyajikan menu halal, membentang di daratan China.

Sumber: http://fransiscariasusanti.blogspot.co.id/2015/06/menelusuri-jejak-islam-di-guangzhou.html?m=1




Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel