SEJARAH PERANG ACEH 1875 - 1904

Kerajaan Aceh memiliki kedudukan yang sangat terkenal sebagai pusat perdagangan . Aceh banyak sekali menghasilkan lada , tambang serta hasil hutan , sehingga Belanda ingin menduduki kerajaaan Aceh serta menguasainya . orang-orang Aceh tetap ingin mempertahankan kedaulatannya walaupun Belanda ingin menguasai. 

Foto Mamok Kincai Niang.

Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat, hubungan ini dilakukan adalah untuk melawan penjajahan belanda terhadap aceh dengan mengunakan taktik dan strategi mendekati belanda. 

Pada tahun 1876 belanda telah mengarahkan pasukannya dan melakukan serangan besar-besaran terhadap pusat-pusat kekuasaan dan kekuatan pasukan aceh, seperti simpang ulim dan tanjung seumantok. 

Pada bulan desember 1876 kedua daerah tersebut dapat ditaklukkan oleh belanda dan dipaksa untuk mengakui kedaulatan belanda. Habib Abdurrahman pada bulan juni 1877 telah berhasil mengdakan perundingan dengan tengku cik ditiro dan imam leungbangta di pidie untuk membicarakan soal-soal yang berhubungan dengan strategi perang. 

Sementara itu penyerangan terhadap benteng- benteng belanda makin dipergiat. Penyerangan habib terutama bertujuan untuk mengacaukan dan memperlemah pos-pos belanda yang merupakan lini penutup yang melingkar antara kreung raba , lambaro, uleekarang dan klieng.

Kecuali penyerangan terhadap pos-pos militer dan pencegatan terhadap konvoi pasukan belanda, dilakuka juga pengerusakan terhadap bagunan militer , seperti misalnya jembatan yang menghubungkan pekann krueng cut dan silang serta pembakaran gudang senjata di pendeti. Tengku cik ditiro menyerang pos belanda di cigieng , sedang raja samalanga,teungku cik bugis memimpin perlawanan di medan pertempuran di daerah aceh besar. Meluasnya medan pertempuran di daerah aceh menyulitkan belanda untuk membagi pasukannya yang akan dikirim ke pelbagi daerah. 


Untuk menduduki samalanga sepasukan besar belanda telah diberangkatkan pada tanggal 8 agustus 1877 dibawah pimpinan colonel van der heidjen. Untuk mendampingi pasukan ini telah dikerahkan pula kapal-kapal perang berjumlah tidak kurang dari 11 buah , ditambah dengan kapal pengangkut sewaan sebanyak 6 buah . pasukan ini mendarat di pantai pengilit baroh . 

Hal itu menimbulkan panic dikalangann serdadu belanda. Dalam pertempursn sengit yang kemudian berlangsung , pihak aceh berhasil menewaskan beberapa perwira. Disamping itu masih banyak perwira bawahan dan serdadu – serdadu belanda yang tewas dan menderita luka-luka akibat peristiwa peperangan itu. 

Dalam bulan juni 1878 telah terjadi pertempuran antara pasukan habib dan pasukan belanda di berbagai tempat. Antara lain di blang eu, peukan badak dan bukit sirun. Selanjutnya terjadi pula pertempuran sengit di lembah beradin , manta candu dang le taron. Sejak habib Abdurrahman memimpin perlawanan,belanda mendapatkan banyak sekali kesulitan untuk mempertahankan daerah yang diduduki nya. Namun dengan keberangkatan pasukan yang dipimpin oleh van heidjen pada tanggal 23 juli 1878 belanda berhasil menguasai daerah –daerah pertempuran dan menduduki berturut- turut seunaloh pada tanggal 25 juli. Menduduki aneu bate pada tanggal 27 juli ,aneu galong dan montasik pada tanggal 28 juli. 

Suatu hal yang sedikit memperlemah kekuatan pihak aceh ialah antara lain menyerahnya habib Abdurrahman pada tanggal 13 oktober 1878 dalam pertempuran –pertempuran selama ini habib memang menunjukkkan sikap berani. Mungkin habib Abdurrahman menyerah karena markas besarnyadi montasik telah direbut oleh belanda dan karena kekalahannya dalam pertempurnnya di longi. 

Tengku muda baid, kepala mukim VII baid, menyerah dan belanda member tugas untuk memadamkan perlawanan rakyat yang masih berkobar besaar didaerah aceh khususnya di daerah baid. Pada waktu kemudian ternyata bahwa teungku muda baid berbalik memihak pada rakyatnya dan melakukan perlawanan- perlawanan kepada belanda. 

Dalam suatu pertempuran teungku muda baid tertangkap oleh belanda dan akhirnya tengku baid di asingkan oleh belanda ke daerah banda. Sementera itu teungku cik ditiro masih tetap melakukan perlawanan terhadap belanda. Benteng belanda di sigli telah diserang dalam bulan april dan mei tahun 1878. Benteng belanda di pidie, yang dibangun sejak 1876 tetap merupakan incaran dari kaum pejuang aceh. 

Foto Mamok Kincai Niang.

Untuk melemahkan kaum pejuang belanda mengadakan pengawasan keras agar beras dan barang- barang keperluan sehari-haridan senjata diimport melalui Bandar pidie, tidak di angkut terus ke daerah aceh besar untuk membantu para pejuang , mengingat terus adanya ganggun terhadap hal tersebut dari pasukan teungku cikditiro terhadap benteng belanda, van der heidjen segera melakukan serangan –serangan terhadap kubu-kubu peertahanan cik ditiro yang terbesar di daerah pidie . penyerangan pasukan –pasukan belanda tersebut terhadap kubu pejuang garot dapat digagalkan oleh pasukan cik ditiro. 

Dalam perlawanan terhadap belanda di daerah aceh barat , peranan teungku umar sangat besar , perlawanannya mula-mula di lakukan di daerah sendiri , darat tetapi kemudian meluas sampai keseluruh daerah maelaboeh. Karena itulah belanda berusaha menyerahkan pasukannya untuk merebut kampong darat yang merupakan markas teungku umar. Didaerah aceh besar teungku umar dalam tahun 1882 melancarkan berbagai serangan terhadap pos –pos belanda dan memaksa belanda meniggalkan beberapa pos mereka antara lain yang berada di daerah kreung.

Pada tahun 1884 sultan Mahmud daudsyah telah dewasa dan dengan dukungan mangkubumi tuanku hasyim dan para ulama antara lain teungku cik ditiro telah aktif melakukan tugas sebagai sultan aceh dengan berkedudukan di daerah kaumala . dalam masa pemerintahan sultan ini perlawanan aceh terhadap belanda terus digiatkan oleh kesultanan aceh . Dari pada itu belanda makin sadar bahwa menghadapi menghadapi perlawanan perlawanan rakyat yang terbesar di berbagai daerah akan menyulitkan dan akan lebih banyak memakan dan menghabiskan biaya. Oleh karena itu belanda lebih memusatkan pada penguasan daerah –daerah yang telah mereka kuasai, yaitu seperti daerah kotaraja dan daerah sekitarnya.Penjagaan- penjagaan yang termasuk dalam lintas konsentrasi ini diperkuat. 

Pada tanggal 14 juni 1886 teungku umar menyerang kapal hok canton yang berlabuh di daerah pantai ragaih. Teungku umar dia mencurigai pemilik kapal yang berasal dari Denmark tersebut bahwa nahkoda kapal itu akan menangkap teungku umar dan menyerahkan teungku umar ke tangan belanda dengan upah sebesar 25.000 dollar. Untuk menaklukkan aceh belanda pada akhirnya menempuh jalan lain, yaitu ingin mengetahui rahasia aceh terutama menyangkut kehidupan social budayanya. 

Pemerintah belanda juga mendapatkan petunjuk dari snouck hurgronje yang pernah mempelajari tentang agama islam diaceh, dia menyebutkan bahwa salah satu jalan terbaik yang bisa di tempuh oleh belanda untuk menguasai daerah aceh adalah dengan cara memecah belahkan kekuatan yang ada dalam kalangan masyarakat aceh . dan sementara itu perlawanan di daerah aceh terus dilakukan oleh pejuang aceh terhadap belanda. 

keadaan mendesak aceh memaksa panglima polim beserta pengikutnya sebanyak 150 orang menyerah pada tanggal 6 september 1903. dengan kejadian itu maka perlawanan rakyat aceh kembali melemah dan memudahkan belanda untuk menanamkan kekuasaannnya di daerah daerah yang berada di aceh seluruhnya. hal ini tidak berarti bahwa pertentangan belanda dan aceh lenyap sama sekali,kenyataan bahwa pada abad ke 20 perlawanan rakyat aceh terhadap pemerintah kolonial belanda masih banyak sekali dan seringkali terjadi.

disisi lain para pejuang aceh juga gencar melakukan penyerangan terhadapp pemerintaha belanda seperti dilakukannya penyerangan geriliya terhadap aceh oleh belanda. Para pejuang aceh sangat bersemangat sekali untuk menghalau penguasaan yang dilakukan oleh belanda tehadap daerah aceh Perang aceh terjadi pada tahun1881-1904, perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah. Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904. 

SUMBER : 

Marwati djoened poespanegoro,nugroho noto susanto,sejarah Indonesia 3, departemen pendidikan dan kebudayaan balai pustaka · 

Sartono karto dirjo,nugroho noto susanto,marwati djoened poespanegoro,1957.sejarah nasional Indonesia, departemen pendidikan dan kebudayaan · 

www.perang aceh .com · 

www.perang aceh 1875-1896.com

Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub



Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel