Makna Wahyu Secara Bahasa



Makna Wahyu Secara Bahasa

Secara etimologi wahyu adalah “al-isharah al-sari’ah” (isyarat yang cepat), “al-kitabah” (tulisan), “al-maktub” (tertulis), “al-risalah” (pesan), “al-ilham” (ilham), “al-kalam al-khafi” (perkataan yang bersifat rahasia) dan setiap sesuatu yang disampaikan kepada orang lain.

Kata wahyu dalam al-Qur’an terdapat sebanyak 78 kali, yaitu 6 kali dalam bentuk kata benda (isim) dan 72 kali dalam bentu kata kerja (fi’l).Kata wahyu memiliki beberapa arti, yaitu sebagai berikut:

a. Ilham naluriah bagi manusia (al-Ilham al-Gharizi li al-insan atau al-Ilhamu al-Fithri) yaitu yang disampaikan oleh Allah kepada manusia yang sehat fitrahnya dan bersih jiwanya, seperti ilham kepada ibu Nabi Musa Firman Allah:

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul.” (QS. al-Qashash: 7)

b. Ilham naluriah bagi binatang (Al-Ilham al-Gharizi li al-Hayawan), seperti wahyu kepada lebah. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 68:

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”,” (QS. An-Nahl: 68)

c. Isyarat yang cepat yakni menyampaikan informasi atau pesan dalam bentuk lambang atau simbol sehingga penerima bisa memahami informasi dengan cepat. Sebagaimana Nabi Zakaria mengisyaratkan kepada kaumnya dalam al-Quran:

“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11)

d. Bisikan dan tipu daya setan untuk menyesatkan manusia, sebagaimana firman Allah ta’ala:

“… Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. al-An’am: 121)

“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. al-An’am: 121)

e. Perintah Allah kepada para malaikat untuk melaksanakannya.

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”…” (QS. Al-Anfal: 12)

Tulisan (al-Kitabah) atau tertulis (al-Maktub) maksudnya ialah risalah yang disampaikan dari seseorang kepada yang lainnya.[4] Yaitu pesan (ar-risalah) yang disampaikan oleh Allah kepada para nabi dan rasul-Nya berupa wahyu.

Semua makna tersebut tercakup dalam makna “Menyampaikan informasi secara rahasia, cepat, dan khusus kepada orang yang diarahkan kepadanya dan dirahasiakan kepada yang lain. Inilah makna asal dari wahyu, yakni apa yang diturunkan dan disampaikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasulnya berupa berita-berita gaib dan syariat. Sebagian mereka ada yang diberi kitab dan ada yang tidak diberi kitab.
sumber;makalah



Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel