Kategori Wujud Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dan Urgensi Wahyu

Kategori Wujud Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dan Urgensi Wahyu

Imam Al-Juwaini sebagaimana diungkapkan oleh Imam As-Suyuthy mengatakan bahwa, Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. itu terbagi kepada dua, yaitu :
Allah berfirman kepada Jibril : “Katakanlah kepada seseorang Nabi (Muhammad ) yang engkau sengaja dikirim kepadanya, bahwasanya Allah berfirman begini atau menyuruh begitu”. Jibrilpun paham makna yang disampaikan Tuhan kepadanya, kemudian ia turun dan mengatakan hal itu kepada Nabi tersebut apa-apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Akan tetapi ungkapan yang dipergunakan Jibril bukan merupakan ungkapan Allah sendiri, tetapi maknanya saja yang dipahaminya dari Allah, sedangkan susunan bahasanya adalah dari Jibril sendiri.
Allah berfirman kepada Jibril, “Bacakanlah kitab ini kepada seseorang Nabi”. Kemudian Jibrilpun turun menyampaikan pesan itu tanpa mengubah sedikitpun kalimat demi kalimat yang telah difirmankan Allah kepadanya.

Bagian yang kedua merupakan wahyu Allah yang berupa al-Quran. Sedangkan bagian yang pertama adalah as-Sunnah, sebab pada waktu menurunkan wahyu yang berupa as-Sunnah juga sama caranya dengan menurunkan al-Quran, hanya as-Sunnah maknanya saja yang diterima dari Allah, sedangkan redaksinya Jibril sendiri yang menyusunnya.

Dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang turunkan kepada nabi Muhammad saw. adalah wahyu. Al-Qur’an adalah wahyu yakni lafazh dan maknanya dari Allah dan penyandarannya kepada Allah. al-Hadits al-Qudsiy adalah wahyu, maknya dari Allah, lafaznya dari Nabi saw. dan penyandarannya kepada Allah. Sedangkan Al-Hadits an-Nabawy juga wahyu yang mana maknanya dari Allah, lafazhnya dari Nabi dan penyandarannya kepada Nabi saw.

5. Urgensi Membahas Wahyu

Pengetahuan tentang wahyu dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya sangat penting untuk dipelajari. Kepentingan ini hakikatnya tidak hanya untuk kalangan ahli ilmu saja. Namun secara umum untuk masyarakat luas yang memahami al-Quran sebagai pedoman hidupnya. Di antara urgensi tersebut ialah:
Wahyu adalah bukti kenabian dan kerasulan, dan kenabian itu telah tertutup dengan diutusnya Muhammad saw. sebagai penutup para nabi dan rasul.
Wahyu tidak lagi diturunkan setelah nabi Muhammad wafat. Oleh karena itu, apabila ada setelah Nabi Muhammad orang yang mengatakan dirinya mendapat wahyu, maka dia adalah pendusta.
Memahami bahwa wahyu itu tidak hanya al-Quran, tetapi segala sesuatu yang diberitahukan kepada nabi dan rasul adalah wahyu. Firman Allah ta’ala:

“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm: 3-4)

Al-Hafizh Ibn Katsir mengatakan: Beliau saw hanya mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya dan menyampaikannya kepada umat secara sempurna tanpa ada penambahan dan pengurangan. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: “Aku tidak berkata melainkan kebenaran.”
sumber;makalah



Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel