Kerajaan Pajajaran (Pakuan); Sejarah, Peninggalan Prasasti, Raja yang Memerintah

Kerajaan Pajajaran (Pakuan); Sejarah, Peninggalan Prasasti, Raja yang Memerintah 



Pakuan Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) Pajajaran adalah pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, sebuah Kerajaan yang selama beberapa abad (Abad ke-7 hingga ke-16) pernah berdiri di wilayah barat Pulau Jawa, meliputi Profinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah sekarang.





Kerajaan ini bahkan pernah menguasai wilayah bagian selatan pulai Sumatra. Lokasi Pakuan Pajajaran berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang. Pada masalalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya sehingga Kerajaan Sunda sering di sebut Kerajaan Pajajaran. Kerajaan ini bercorak agama Hindu dan Budha. Sekitar abad -14 kerajaan ini di ketahui telah beribukota di pakuan Pajajaran serta memiliki dua kawasan, pelabuhan utama di Sunda Kelapa dan Banten (Banten Girang).

Informasi penting di atas baru di ketahui ketika di temukan Prasasti Canggal (732 M). Prasasti ini menyebut nma seseorang Sanjaya membangun sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Siwa di Gunung Wukir, Jawa tengah. Disebutkan pula Nma dua Orang Sanna dan Sanaha, orang tua Sanjaya. Selanjutnya dalam Kitam Carita Parahyangan, sebuah naskah berbahasa Sunda Kuno dari abad ke-16 di jumpai keterangan tentang Sanjaya. Sanjaya dikatakan sebagai dari anak Raja Senna (sennah) yang berkuasa di Galuh. Sumber utama tenteng kehidupan sehari-hari di pajajaran dari abad ke-15 sampai awal abad ke-16 dapat di temukan dalam naskah kuno Bujangga Manik.

Konon, saat di taklukan Banten, sejumlah punggawa istana Kerajaan Pajajaran meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tatacara kehidupan mandala ketat, dan sekarang mereka di kenal sebagai Orang Baduy (ini adalah sebutan dari peneliti Barat terhadap mereka; sementara mereka sendiri menyebut diri urang Kanekes atau orang Kanekes). Meski demikian asal-muasal orang Baduy sebagai bekas Penggawa Istana Pajajaran masih menjadi kontroversi.
sumber: buihkata



Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel