Sejarah Perkembangan Islam di Bangka Belitung

Sejarah Perkembangan Islam di Bangka Belitung


PENDAHULUAN

Manusia, pada hakikatnya, secara kodrati dinugerahi hak-hak dasar yang sama oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hak-hak dasar ini disebut Hak Asasi Manusia (HAM). Hak asasi manusia adalah sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrati, universal dan abadi, berkaitan dengan harkat dan martabat manusia. Pada gilirannya, hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, di mana hak-hak asasi ini menjadi dasar daripada hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang lain.

Kepastian awal masuknya Islam ke Babel masih memerlukan kajian mendalam dan menyeluruh terhadap data peninggalan tertulis berupa kitab-kitab karangan ulama maupun data-data arkeologi yang bersinggungan dengan Islam di Babel. Mengingat minimnya data pendukung itu, maka perumusan kapan Islam masuk ke Babel baru sebatas pandangan spekulatif sekitar abad IX atau X.

Demikian salah satu kesimpulan yang dapat ditarik dari Seminar Nasional Sejarah Masuknya Islam di Bangka Belitung yang digelar STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS), di Gedung Pertemuan LPMP Provinsi Babel, Rabu (19/8).

Selain pertanyaan kapan Islam masuk ke Babel, seminar yang menghadirkan narasumber Prof Andi Faisal Bakti PhD dosen UIN Jakarta, Drs Retno Purwanti MHum peneliti dari Balai Arkeologi Palembang serta Drs Zulkifli Harmi MA antropolog sekaligus Ketua STAIN SAS, juga masih melahirkan pekerjaan rumah apakah penyebaran Islam di Pulau Bangka dan Pulau Belitung dilakukan secara serempak atau terpisah.

Namun jika dirunut dari momentum pengislaman yang dilakukan oleh beberapa sultan dan ulama dari kerajaan Islam yang saat itu telah berkuasa di Indonesia, maka hampir dipastikan bahwa secara ‘gerakan’ penyebaran Islam mulai gencar dilakukan di Babel sejak abad XVI. Penyebaran ini melalui proses yang panjang dan melibatkan ulama dari berbagai penjuru dengan pusat (pemerintahan) yang berpindah-pindah pula.

PEMBAHASAN

A.    ISLAMISASI DI BANGKA

Proses islamisasi di Bangka terjadi melalui saluran perdaganan, perkawinan, politik, pendidikan, dan tasawuf. Dari sudutcorak Islam tradisional dan kitab-kitab yang digunakan, pengaruh yang paling dominan tampaknya terjadi melalui jalur Banjar seingga pengaruh tradisi islam yang dikembangkan ulama Banjar cukup dominan dalam mewarnai corak Islam tradisional di Bangka.[1]

1.      Dirintis Sultan Johor dan Ulama Minang

Zulkifli, dalam makalah yang berjudul Islamisasi di Bangka, mengupas panjang lebar mengenai proses islamisasi di daerah ini. Menurutnya, momentum penyebaran Islam secara gencar di Bangka  diawali dengan kedatangan Sultan Johor dan Panglima Perang Tuan Sarah serta Raja Alam Harimau Garang dari Minangkabau.[2]

Misi kedatangan Sultan Johor untuk menumpas bajak laut (lanun/lanon) sekaligus menyebarkan Agama Islam dan mendirikan pusat pemerintahan yang berkedudukan di Bangkakota dengan mengangkat Panglima Sarah sebagai Raja Muda di Pulau Bangka. Sepeninggalan Panglima Sarah, tampuk pemerintahan diserahkan kepada Kesultanan Minangkabau yang dipimpin Raja Alam Harimau Garang.

Saat melakukan penyebaran Agama Islam, Raja Alam Harimau Garang  memindahkan pusat pemerintahannya dari Bangkakota ke Kotawaringin hingga wafat dan dimakamkan di Kotawaringin. Pada priode yang sama,  Zulkifli dengan mengutip Ma’moen Abdullah et al, menyatakan ulama dari Batusangkar bernama Nakhoda Sulaiman dan Qori datang ke Muntok dan bersama-sama anak cucunya mendirikan masjid di kota tersebut.

Peran Sultan Johor dan ulama Minangkabau dalam penyebaran Islam di Pulau Bangka kendati kurang terdengar gaungnya dalam sejarah Islam di Bangka namun baik Sultan Johor maupun ulama Minangkabau memegang peran penting dalam khazanah penyebaran Islam di Pulau Bangka mengingat keduanya adalah perintis penyebaran Islam secara intensif di pulau ini.

Selain ulama Johor, Minangkabau dan Batusangkar, penyebaran Islam di Pulau Bangka juga dilakukan oleh ulama Banten. Adalah Sultan Agung Tirtayasa (1651-1692), sepeninggalan Raja Alam Harimau Garang, mengambil alih pusat pemerintahan Islam di Kotawaringin dengan menunjuk Bupati Nusantara sebagai Raja Muda.

“Pada masa kepemimpinan Bupati Nusantara ini, pusat pemerintahan, penyebaran Islam dan pengaturan masalah-masalah sosial kemasyarakatan di Bangka dipindahkan kembali ke Bangkakota,” ungkap Zulkifli.

Masa penyebaran Islam oleh Kesultanan Banten di Pulau Bangka berakhir setelah wafatnya Bupati Nusantara sekitar tahun 1671. Priode selanjutnya, penyebaran Islam di Pulau Bangka dilakukan melalui jalur Palembang oleh Sultan Palembang bernama Sultan Abdurrahman.

Sultan Abdurrahman adalah Sultan Palembang yang pertama mendirikan Kesultanan Palembang Darussalam setelah memisahkan diri dari Kerajaan Mataram. Ia menikahi putri Bupati Nusantara bernama Khadijah. Dengan demikian Sultan Abdurrahman secara tidak langsung memiliki hubungan emosional dengan Pulau Bangka mengingat mertuanya (Bupati Nusantara) merupakan penguasa Islam di Pulau Bangka yang berpusat di Bangkakota.

Menurut Zulkifli, dengan mengutip berbagai sumber menyebutkan, Sultan Abdurrahman tidak saja ‘mewarisi’ Pulau Bangka melainkan juga beberapa wilayah sekitarnya. Pada masa itu tersusunlah hukum adat yang bernama Undang-Undang Simbur Cahaya. Sedangkan khusus di Pulau Bangka diterbitkan Undang-Undang Sindang Mardika yang pusat pengaturan undang-undang ini berada di Muntok dan dikepalai oleh pejabat bergelar Rangga.

Pada masa ini pula, penerapan terhadap hukum Islam dalam tradisi dan kehidupan masyarakat di Bangka menjadi perhatian Sultan Abdurrahman. Oleh karena itu warna islamisasi di Bangka pada masa itu lebih tampak pada penerapan aspek hukum Islamnya saja.

Kondisi serupa juga berlanjut pada masa kekuasaan Sultan Palembang lainnya seperti Sultan Mahmud Mansyur (1706) dan Sultan Agung Komaruddin (1714-1724). Terlebih ketika Sultan Mahmud Badaruddin Jayawikrama (1724-1758) berkuasa, proses islamisasi di Bangka dapat dikatakan mandeg atau lamban lantaran perhatian sultan terlalu terpusat pada pengeksploitasian bijih timah untuk kekayaan keluarganya dan Kesultanan Palembang.

Lambannya penyebaran Islam di Pulau Bangka terus berlanjut pada masa Sultan Ahmad Najamuddin (1758-1776), Sultan Mahmud Bahauddin (1776-1803), Temenggung Kerta Menggala dan Temenggung Kerta Wijaya. (ichsan mokoginta dasin/bersambung)   

2.      Pengaruh Ulama Banjar

Tulisan  ini selain bersumber dari kajian dan analisa penulis dari tiga  makalah yang disampaikan dalam  Seminar Nasional STAIN SAS Bangka Belitung tentang Sejarah Masuknya Islam di Bangka Belitung, Rabu (19/8) di Gedung LPMP Provinsi Bangka Belitung, juga merujuk dari beberapa literatur dan sumber lisan yang ada kaitannya dengan sejarah Islam di Bangka Belitung.[3]

Sebelumnya telah dipaparkan fase awal penyebaran Islam di Bangka Belitung (khususnya di Pulau Bangka) baru teridentifikasi pada abad XVI yang dibuktikan dengan  kedatangan Sultan Johor dan Panglima Perang Tuan Sarah serta Raja Alam Harimau Garang dari Minangkabau yang mengemban misi untuk menumpas bajak laut (lanun/lanon) sekaligus menyebarkan Agama Islam yang berkedudukan di Bangkakota dengan mengangkat Panglima Sarah sebagai Raja Muda di Pulau Bangka. Kemudian dilanjutkan dengan priode ulama Banten yang berakhir pada sekitar separuh lebih dari abad XVII atau sejak wafatnya Bupati Nusantara pada tahun 1671.

Pasca selanjutnya, penyebaran dan dakwah Islam di Pulau Bangka dilanjutkan oleh Kesultanan Palembang yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Abdurrahman, menantu Bupati Nusantara. Sampai di priode ini (Kesultanan Palembang) penyebaran Islam berlangsung lamban karena hampir dari seluruh sultan Palembang lebih terfokus pada eksploitasi bijih timah ketimbang secara intensif menyebarkan Islam di Pulau Bangka.

Babak baru penyebaran Islam di Pulau Bangka baru terjadi atau diperkirakan berlangsung sekitar pertengahan abad XIX. Disebut sebagai babak baru karena upaya penyebaran Islam secara intensif dilakukan ke hampir seluruh Pulau Bangka bermula pada pertengahan abad XIX. Pada priode ini, ulama Banjar (Kalimantan Selatan) memegang peranan penting, karena mereka inilah yang konon disebut-sebut sebagai ulama paling berpengaruh ‘mewarnai’ Islam di Pulau Bangka. Mengenai kapan tahun kedatangan pertama ulama-ulama Banjar ke Pulau Bangka belum diperoleh data yang pasti.

Dalam makalah berjudul Islamisasi di Bangka  ditulis oleh Ketua STAIN SAS Bangka Belitung, Drs Zulkifli Harmi MA, dalam Seminar Nasional Sejarah Masuknya Islam di Bangka Belitung, memaparkan salah seorang ulama Banjar yang tercatat mendatangi sekaligus menyebarkan Islam di Pulau Bangka adalah H Muhammad Afif keturunan ketiga (cicit) Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari ulama Banjar yang paling berpengaruh dan pengarang kitab fiqih Sabil al Muhtadin yang tersohor itu. Kemungkinan besar, H Muhammad Afif yang tidak lain adalah ayah dari Syaikh Abdurrahman Siddik ini datang ke Pulau Bangka tepatnya di Muntok pada dekade setelah 1860-an.

3.      Hijrah Karena Penindasan

Dakwah Islam di Pulau Bangka yang dilakukan oleh ulama Banjar pada pertengahan abad XIX atau sekitar tahun 1860-an, berawal dari peristiwa jatuhnya Kesultanan Banjar di tangan pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1859. Hegemoni kekuasaan kolonial pada masa itu tidak saja meruntuhkan Kesultanan Banjar secara politik maupun ekonomi, namun turut pula menciptakan kekacauan dan rasa tidak aman bagi rakyat Banjar. Khususnya para ulama dan orang-orang kesultanan yang tidak mau tunduk dengan pemerintah Belanda,  terus dikejar dan dibunuh.

Berdasarkan catatan Zulkifli, runtuhnya Kesultanan Banjar yang sebelumnya telah menggantikan kedudukan Kesultanan Palembang sebagai pusat kebudayaan dan   intelektual Islam di nusantara  akibat pendudukan pemerintah Hindia Belanda ini, membawa pengaruh yang besar terhadap perkembangan Islam di Bangka. Rasa tidak aman rakyat Banjar dan ulama-ulamanya akibat penindasan pemerintah Hindia Belanda ini, membuat sebagian mereka memilih meninggalkan tanah kelahiran mereka (hijrah). Salah satu tempat yang dipilih untuk hijrah dan bermukim adalah Pulau Bangka. Pada masa itu tercatat nama H Muhammad Afif bersama istri mudanya Sofiyah binti H Muhammad Qasim dan tiga orang putranya, memilih bermukim di salah satu tempat yang strategis di Pulau Bangka yakni Kota Muntok. 

Alasan mengapa H Muhammad Afif memilih melakukan penyebaran atau dakwah Islam di Pulau Bangka, tidak mendapat penjelasan rinci dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam di Bangka Belitung.  Namun boleh jadi kedatangan H Muhammad Afif ini disebabkan karena wilayah Pulau Bangka pada masa itu masih terbilang aman dari penindasan kolonial (Belanda). Tidak seperti di Banjar dimana pada saat itu para ulama dan orang-orang yang terkait dengan Kesultanan Banjar diuber-uber bahkan dibunuh oleh Belanda. Tidak menutup kemungkinan pula kalau kedatangan H Muhammad Afif di Pulau Bangka adalah untuk meneruskan dakwah Islam yang sebelumnya sudah dilakukan oleh sejumlah ulama Banjar terdahulu. Kemungkinan seperti ini (melanjutkan dakwah ulama-ulama terdahulu) bisa saja terjadi mengingat masih banyak ulama-ulama penyebar Islam pada fase awal masuknya Islam di Pulau Bangka yang  diyakini belum  tercantum dalam data dan garapan tentang sejarah Islam di Bangka Belitung.

Salah satunya adalah Atok Ning (Ningrat?) ulama Banten yang menyebarkan Islam di Bangka yang  wafat dan dimakamkan di Desa Air Duren Kecamatan Mendobarat. Oleh sebagian orang, ulama yang satu ini disebut-sebut sebagai ulama pertama yang melakukan dakwah Islam di Mendobarat sekaligus sebagai penggagas dan pendiri masjid pertama untuk melaksanakan Sholat Jumat di Mendobarat yang sekarang bernama Masjid Mardhiatul Jannah di Desa Air Duren. Namun belum ditemukan data akurat apakah Atok Ning melakukan dakwah Islam di Air Duren ini sebelum  masuknya Kesultanan dan Ulama Banten di Pulau Bangka ataukah sesudahnya. Kemungkinan seperti ini bisa pula terjadi pada ulama-ulama Banjar yang menyebarkan Islam di Pulau Bangka.

Seperti ulama-ulama sebelumnya, selama menetap di Muntok H Muhammad Afif gencar melakukan dakwah Islam. Di zaman itu, nama ulama ini pun makin tersohor di wilayah Pulau Bangka. Bahkan, menurut Zulkifli, berkat kerja keras  H Muhammad Afif inilah yang membuat proses islamisasi di Bangka berlangsung cepat di masa itu.

Di penghujung abad XIX atau sekitar tahun 1898-1899, salah seorang putra H Muhammad Afif yakni Syaikh Abdurrahman Siddik datang ke Muntok dan menggantikan posisi ayahnya mengajarkan pendidikan Islam dan dakwah  di  Muntok. 

Kedatangan ulama yang membawa ajaran tarekat Samaniah dengan salah satu karya yang terkenal yakni Amal Ma’rifat  ini, belakangan, sangat memberi pengaruh besar terhadap pertumbuhan Islam di Bangka Belitung pada priode itu bahkan hingga sekarang.

Hasil penelusuran dari beberapa literatur dan keterangan yang disampaikan secara lisan, kedatangan Syaikh Abdurrahman Siddik ke Pulau Bangka setidaknya mengemban dua misi. Pertama untuk bersilaturrahmi kepada ayahnya H Muhammad Afif dan  menyebarkan dakwah serta pendidikan Islam sebagai salah satu jihad dan kekuatan melawan kolonialisme pada masa itu.

Dakwah yang dilakukan Syaikh Abdurrahman Siddik tidak saja terpusat di Muntok. Selanjutnya meluas hingga  Kundi, Kotawaringin, Pudingbesar, Mendobarat (yang berpusat di Kemuja), Sungaiselan, Belinyu dan sejumlah tempat lainnya.

Selain merujuk pada kitab-kitab yang dipelajari dari guru-gurunya, Syaikh Abdurrahman Siddik juga aktif menulis kitab sebagai bahan ajar. Setidaknya, selama berada di Bangka, menurut Zulkifli, Syaikh Abdurrahman Siddik telah menulis sembilan kitab masing-masing Jadwal Sifat Dua Puluh dan Tadzkirah li Nafs wa li Amsal yang ditulis di Belinyu, Pelajaran Kanak-kanak ditulis di Kemuja, Syarah Sittin Masalah dan Jurumiyah di Sungaiselan, Asrar al-Shalah min Iddah Kutub  al-Mu’tamaddah, Syair Ibrah dan Khabar Qiyamah di Muntok serta Fath al-Alim fi Tartib al-Ta’lim di Kundi. Kebanyak kitab-kitab tersebut  dicetak di Mathba’ah Ahmadiyah Singapura.

Berdasarkan sejumlah keterangan lisan, untuk lebih memperdalam ilmu agama yang telah ia ajarkan, Syaikh Abdurrahman Siddik menganjurkan murid-muridnya (khususnya di Kemuja) untuk menuntut ilmu (naon) di Mekkah. Mereka inilah (murid-mmurid Syaikh Abdurrahman Siddik yang naon di Mekkah) yang nantinya akan melanjutkan dakwah dan ajaran Syaikh Abdurrahman Siddik di Desa Kemuja yang dikemas dan dikelola dalam bentuk madrasah (warga setepat menyebutnya dengan sebutan Sekolah Arab) hingga menjadi pesantren yakni Pesantren Al Islam Kemuja.

Sekitar tahun 1912 M, Syaikh Abdurrahman Siddik meninggalkan Pulau Bangka dan melanjutkan dakwah Islam ke beberapa tempat di Sumatera hingga wafatnya di Riau tepatnya di Kampung Hidayat, Sapat, Indragiri tahun 1939. Sedangkan dakwah Islam yang diajarkan beliau selama di Bangka terus dikembangkan oleh para murid dan keturunannya sehingga dikenal luas seantereo Bangka Belitung.

Hingga menjelang pertengahan abad XX atau sekitar dekade 1940-an, dakwah dengan sistem pengajian di rumah-rumah penduduk oleh ulama Banjar, masih berlangsung di Pulau Bangka. Salah satu ulama  dimaksud yakni KH Mansyur Al Banjari yang menetap di Desa Petaling Kecamatan Mendobarat.

Mengenai ulama ini, belum ditemukan data maupun karya tertulis yang menguak secara mendalam tentang kiprah dan pemikiran-pemikiran beliau, kecuali keterangan dari mulut ke mulut yang disampaikan oleh para tetua masyarakat. Besar kemungkinan KH Mansyur Al Banjari merupakan ulama Banjar terakhir yang melakukan dakwah Islam di Mendobarat.  KH Mansyur yang oleh masyarakat Petaling dipanggil Atok Banjar ini menetap di Petaling bersama istrinya bernama Khadijah. Beliau wafat dan dimakamkan di TPU Desa  Petaling yang hingga saat ini makamnya dianggap keramat dan sering diziarahi oleh banyak orang.  (ichsan mokoginta dasin/bersambung)  

DAFTAR PUSTAKA

Zulkifli, Kontinuitas Islam Tradisional di Bangka, Sungailiat: Shiddiq Press, 2007.

http://Bangka.pos, ichsan mokoginta dasin Sejarah Islam di Babel (1) , Dirintis Sultan Johor dan Ulama Minang, diakses pada tanggal 14 Desember 2010.

http:// http://Bangka.pos, ichsan mokoginta dasin, Sejarah Islam di Bangka Belitung (Bagian II) Pengaruh Ulama Banjar, diakses pada tanggal 14 Desember 2010.

[1] Zulkifli, Kontinuitas Islam Tradisional di Bangka, (Sungailiat: Shiddiq Press, 2007), hal. 105-106.

[2] http://ichsan mokoginta dasin Sejarah Islam di Babel (1) , Dirintis Sultan Johor dan Ulama Minang, diakses pada tanggal 14 Desember 2010

[3] http://ichsan mokoginta dasin, Sejarah Islam di Bangka Belitung (Bagian II) Pengaruh Ulama Banjar, diakses pada tanggal 14 Desember 2010.

Source:http://rasyba.blogspot.co.id/2010/12/sejarah-islam-di-babel.html?m=1




Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel