Sejarah Islam di Filipina Lengkap Pembahasanya

Filipina merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Terletak di sebelah utara Indonesia dan Malaysia, dengan luas total 300.000 km2, yang terdiri dari 7.107 pulau. Negara kepulauan ini dibagi menjadi tiga kelompok utama: Luzon, Visayas, dan Mindanao. Ibukota Manila terletak di pulau Luzon yang merupakan pulau terbesar.
Penduduk Filipina menurut sensus tahun 2005 berjumlah 86.241.697 jiwa, berada di urutan ke-12 di dunia. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah mereka mencapai 93.000.000 jiwa. Mayoritas penduduk Filipina beragama Katolik (80%), dilanjutkan dengan Protestan (10%), Islam (5%), Budha 2,5%, atheis dan lainnya sebanyak 2,5%. Namun sumber lain menunjukkan persentase umat Islam Filipina lebih dari 5%, bahkan mencapai 12.000.000 jiwa.
Filipina seringkali dianggap sebagi satu-satunya negara Asia Tenggara di mana pengaruh budaya Barat terasa sangat kuat. Kondisi minoritas umat Islam saat ini mengaburkan kejayaan dan peranan Islam dalam perjalanan sejarah peradaban Filipina, termasuk dalam menghadapi kolonialis Barat yang hendak menguasai dan mengekploitasi kepulauan Filipina.
Jauh sebelum kedatangan orang-orang Spanyol ke sana, (waktu itu belum bernama Filipina) telah berdiri beberapa kerajaan Islam berdaulat yang memberlakukan hukum Islam dengan taat. Tetapi saat ini umat Islam, khususnya yang meminta diberlakuannya kembali hukum Islam, dianggap separatis.
Bahkan ahli-ahli sejarah Filipina beranggapan sejarah Filipina dimulai dari era kolonialisme. Mereka tampaknya hendak menghapus jejak Islam dan kejayaan umat Islam yang telah memakmurkan wilayah kepulauan ini sebelum akhirnya dirampas oleh para penjajah Spanyol dan Amerika.
Peninggalan tertulis Filipina dimulai sekitar abad ke-8 M berdasarkan lempeng tembaga yang ditemukan di dekat Manila. Dari lempeng tersebut diketahui bahwa Filipin berada dalam pengaruh Sriwijaya. Bukti tertulis seperti ini tidak banyak. Inilah yang dijadikan dalih oleh para ahli sejarah Filipina untuk mengabaikan sejarah mereka sebelum masa kolonial.
Muslim Filipina memiliki sejarah panjang, sama panjangnya dengan
kedatangan Islam ke kawasan Asia Tenggara secara umum. Menurut Ahmed Alonto, seorang cendikiawan Muslim Filipina, berdasarkan bukti-bukti sejarah yang terekam, Islam telah masuk ke Filipina pada tahun 1380M, khususnya ke kepulauan Sulu dan Mindanao. Kedatangan Islam diawali oleh seorang ahli Fikih, Sharif Macdhum (asy-Syarif Karim al-Makhdum. Kedatangannya kemudian diikuti oleh para pendakwah dan pedagang Arab lainnya.
Dakwah mereka berjalan baik, dan diterima secara terbuka oleh penduduk kepulauan Zulu. Mereka membaur dan melebur dengan penduduk asli yang dengan senang hati menerima Islam, kemudian membentuk sistem kehidupan bermasyarakat, dan akhirnya mendirikan pemerintahan di pulau-pulau bagian selatan Filipina.
Salah seorang pendiri pemerintahan itu ialah Asy-Syarif Abu Bakar, yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Dia datang ke kepulauan Sulu melalui Pelembang kemudian Brunei. Dia menikahi putri pembesar setempat pangeran Bwansa, Raja Baginda yang juga beragama Islam.
Raja Baginda menunjuk asy-Syarif Abu Bakar sebagai pewaris kepemimpinan. Sepeninggal mertuanya Syarif Abu Bakar melanjutkan kepemipinan dan membangun pemerintahan Islam Kesultanan Sulu yang kemudian maju dan bertahan hingga kedatangan Amerika ke Filipina.
Raja Baginda sendiri juga seorang dai pendatang. Konon dia seorang bangsawan Minangkabau yang merantau mendakwahkan Islam di kepulauan Zamboaga dan Basilan. Setelah berhasil di sana dia pindah dan bermukim di kepulauan Sulu. Berkat dakwahnya pula akhirnya Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal di pulau Mindanao memeluk Islam. Dari sinilah Islam kemudian semakin berkembang pesat dan menyebar ke berbagai wilayah di kepulauan Filipina.
Menurut sebagian pendapat kata Manila (ibukota Filipina) berasal dari kata Amanillah (negeri Allah yang aman). Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada di bawah kekuasan pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar Datuk atau Raja. Raja as-Syarif Muhammad bin ‘Aliy juga merupakan seorang raja yang dikenal dari pulau Mindanao.
Pulau Mindanao itu sendiri kaya dengan berbagai hasil bumi. Dewasa ini pulau ini sendiri menghasilkan 56% dari total jagung Filipina, 55% biji kopi, 55% kelapa, 50% ikan, 39% daging, 29% Beras, 50% buah-buahan, 100% pisang, dan karet Filipina.
Bangsa Eropa datang pertama kali pada tahun 1521M dalam sebuah ekpedisi yang dipimpin oleh Ferdinando de Magelhaens, orang Portugis yang berlayar untuk Spanyol. Magelhaens pertama mendarat di sebuah pulau tidak dikenal di kawasan Pasifik, kemudian ekspedisi ini terus menyinggahi pulau-pulau berikutnya sampai mereka mendapatkan di wilayah selatan kepulauan yang telah memiliki sistem pemerintahan berupa kerjaan-kerajaan, di antaranya ialah kesultanan Sulu dan Mindanao.
Sejak awal kedatangan mereka, penduduk setempat agaknya telah mencium gelagat lain di balik “ekspedisi ilmiah” ini. Konflik terjadi, Magelhaens sendiri tewas dalam sebuah pertempuran melawan Datuk Lapu-Lapu pada tahun itu juga.
Pada tahun 1565 armada Spanyol kembali mendarat di Filipina. Kali ini armada militer di bawah pimpinan Miguel Lopez Legaspi. Mereka mengetahui sebagian besar penduduk setempat khususnya di wilayah selatan memeluk agama Islam, yang mereka identifikasi sebagai musuh historis mereka, kaum muslim Andalusia yang biasa disebut Moor, kemudian Muslimin Filipina yang mendiami wilaya selatan mereka panggil Moro.
Pada tahun 1570 mereka berusaha menghentikan perkembangan dakwah Islam di Manila, sehingga berakibat pecahnya perang, yang juga merupakan reaksi terhadap ambisi orang-orang Spanyol tersebut untuk menjajah menguasai kekayaan alam Filipina. Sejak itu mulailah kolonialisasi Spanyol di Filipina.
Jika kolonial Spanyol menaklukan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan berarti, tidak demikian halnya dengan wilayah selatan, yang merupakan pusat kerajaan-kerajaan Islam. Tentara kolonialis harus bertempur mati-matian kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao-Sulu. Menghabiskakn lebih dari 375 tahun masa kolonialisme dengan perang berkelanjutan melawan kaum Muslimin.
Kesultanan Sulu sendiri baru takluk pada tahun 1876. Walaupun demikian kaum Muslimin tidak pernah dapat ditundukkan secara total. Perlawanan terus berlanjut sampai Spanyol angkat kaki dari Filipina. Raja Sulaiman adalah salah seorang pimpinan mujahidin Moro yang gigih melakukan perlawanan terhadap penjajah Spanyol.
Dalam taktik penjajahannya, Spanyol menerapkan politik devide and rule (pecah belah dan kuasai) serta mision-sacre (misi suci kristenisasi) terhadap orang-orang Islam. Mision-sacre ini agaknya cukup berhasi di wilayah utara. Mereka kemudian mendiskreditkan kaum Muslimin yang mendiami wilayah selatan.
Orang-orang utara yang telah dikristenkan kemudian diadu domba dan diikutsertakan dalam pasukan Kolonialis melawan bangsa mereka sendiri dengan mengatasnamakan misi suci. Mereka mendoktrin orang-orang Kristen dengan kebencian dan rasa curiga kepada bangsa Moro yang Islam. Hal ini berdampak sampai sekarang. Lebih jauh Spanyol melekatkan nama raja mereka Filipe II (memerintah 1556-1598)untuk wilayah kepulauan tersebut.
Sekalipun Spanyol gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilyah itu merupakan bagian dari teritorialnya. Secara tidak sah dan tidak bermoral, Spanyol kemudian menjual Filipin kepada Amerika Serikat seharga US $ 20 juta pada tahun 1898M melalui traktat Paris.
Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Mereka menjanjikan kebebasa beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, kebebasan mendapatkan pendidikan bagi bangsa Moro dengan bukti penanda tanganan Traktat Bates (20 Agustus 1898).
Tetapi tampaknya hal itu hanya taktik meredam perlawanan umat Islam, karena pada saat yang sama AS menghadapi penolakan dan perlawanan di wilayah utara. Begitu perlawanan kelompok revolusioner utara dapat mereka kalahkan pada tahun 1902, kebijakan AS di Mindanao dan Sulu berubah menjadi politik campur tangan dan penjajahan terbuka.
Selama masa perjanjian itu pula AS berhasil membuka sejumlah daerah dan hutan untuk kepentingan kapitalis. Pada tahun 1903 Mindanao dan Sulu dijadikan satu wilayah dengan nama Moroland. Tindakan Amerika ini mendapat perlawanan kaum Muslimin, lebih dari empat puluh kali pertempuran terjadi antara tahun 1903-1923.
Amerika tidak berhasil menaklukkan kaum Muslim Moro dengan kekuatan militer. Mereka akhirnya menerapkan strategi penjajahan melalui pendidikan dan bujukan, yang kemudian mereka jadikan sebagai kebijakan di seluruh jajahan mereka. Sebagai dampaknya kesatuan politik dan persatuan masyarakat Muslim mulai berantakan, norma-norma Islam mulai diserang budaya-budaya Barat. Melalui strategi ini Amerika memasukkan kebiasaan dan tradisi orang-orang Kristen ke dalam masyarakat Muslim. Selain itu Amerika juga bermaksud menggabungkan kaum Muslim ke dalam arus utama masyarakat Filipina Utara yang Kristen.
Pendekatan ini sedikit demi sedikit mengurangi dan melemahkan kekuasan politik para Sultan. Amerika kemudian mengalihkan kekuasaan mereka kepada Kristen Filipina di utara. Kekuasaan para Sultan secara bertahap diambil alih oleh Manila. Kemudian melalui berbagai kebijakan dan perundang-undangan agraria pemerintah Manila mempersempit wewenang kaum Muslimin Moro khususnya para Sultan dalam kepemilikan tanah, sebaliknya memberikan keleluasaan kepada orang-orang utara dan para kapitalis untuk menguasai tanah Mindanao dan wilayah kepulauan selatan lainnya.
Pemberlakuan Quino-Recto Colonialization Act. nomor 4197 pada 12 Februari 1935 menandai upaya pemerintah Filipina yang lebih agresif untuk membuka tanah dan menjajah Mindanao. Pemerintahan Manila bentukan Amerika ini kemudian mendatangkan orang-orang utara dalam jumlah besar ke pulau Mindanao.
Bahkan seorang senator Manuel L. Quezon pada tahun 1936-1944 gigih mengampanyekan program pemukiman besar-besaran orang-orang Utara dengan tujuan untuk menghancurkan dominasi dan keunggulan jumlah bangsa Moro di Mindanao, serta berusaha melebur mereka ke dalam masyarakat Filipina secara umum. Untuk itu pemerintah membangun koloni-koloni yang disubsidi lengkap dengan seluruh alat bantu yang diperlukan.
Amerika memberikan kemerdekaan penuh kepada Filipina pada tahun 1946. Tetapi kemerdekaan ini tidak memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro, karena pemerintahan yang baru tetap melanjutkan kebijaksanaan Amerika terhadap orang-orang Moro. Pulau Mindanao dan Kepulauan Sulu dimasukkan ke dalam bagian negara Filipina.
Umat Islam Filipina tidak tinggal diam, pada mulanya mereka memilih jalan damai untuk merebut kembali kedaulatan yang telah terampas. Setelah terbukti perjuangan konstitusional ini tidak dapat dilakukan, mereka membentuk MLF (Moro Liberation Front) pada thun 1971untuk mengorganisasi perjuangan bersenjata demi mendirikan negara Islam yang berdaulat.
Pada tahun 1975 Manila mulai memilih bernegosiasi dengan MLF, yang berujung dengan Kesepakatan Tripoli yang ditandatangani pada 23 Desember 1976. Diplomasi ini memicu perpecahan di kalangan MLF menjadi MNLF (Moro National Liberation Front) yang memilih untuk bernegosiasi dan MILF (Moro Islamic Liberation Front) yang menolak untuk berunding.
Kesepakatan Tripoli berisi pembentukan pemerintahan otonomi di Filipina selatan yang mencakup tiga belas propinsi, yaitu: Basilan, Sulu, Tawi-tawi, Zamboanga de Sur, Zamboanga del Norte, Catabato Utara, Manguindanao, Sultan Kudarat, Lanao Norte, Lanao Sur, Davao Sur, Catabto Selatan, dan Palawan. Otonomi penuh diberikan pada bidang pendidikan dan pengadilan, sementara bidang pertahanan dan politik luar negeri tetap menjadi wewenang pemerintahan pusat di Manila.
Namun kesepakatan ini tampaknya hanya siasat Marcos untuk memecah MLF. Marcos sendiri kemudian secara halus membatalkan kesepakatan dengan mengadakan referendung di 13 propinsi tersebut, untuk mengetahui sikap penduduknya, menerima atau menolak otonomi ini. Hasilnya sudah diperkirakan Marcos, Muslimin Moro kalah suara; setelah menggalakkan migrasi dan pemukiman besar-besaran penduduk utara ke selatan khususnya Mindanao populasi umat Islam Moro tidak lagi menjadi mayoritas.
Selain perjuangan bersenjata melalui organisasi seperti MILF, masyarakat sipil juga melakukan pendekatan damai di bawah pengawasan PBB melalui Bangsamoro People’s Consultative Assembly yang mengadakan pertemuan umum pada tahun 1999 dan 2001. Pada tahun 1999 mereka mengeluarkan pernyataan sikap bersama terhadap pemerintah Filipin: “…kami percaya bahwa satu-satunya solusi berguna dan abadi bagi hubungan yang tidak sehat dengan pemerintah Filipina adalah pengembalian kebebasan kami yang secara ilegal dan imoral telah dicuri dari kami, dan kami diberi kesempatan untuk mendirikan pemerintahan sesuai dengan nilai-nilai sosial, relijius dan budaya kami”.
Sikap ini dipertegas pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada tahun 2001 yang dihadiri sekitar dua setengah juta orang, yang menyatakan, ”Satu-satunya solusi yang adil, bermakna dan permanen untuk persoalan Mindanao adalah kemerdekaan rakyat dan wilayah Bangsamoro sepenuhnya”.
Dan hingga sekarang masyarkat Moro masih berjuang untuk kemerdekan atau otonami dengan wilayah yang diperluas. Semoga Allah menganugerahkan hidayah, kekuatan, dan kesabaran kepada saudara-saudara kita kaum Muslim Moro untuk tetap istiqamah berada dan berjuang di jalan Allah dan sehingga Dia memenangkan agama-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa.
source:peradaban



Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel