Sejarah Perkembangan Islam di Banten; Keadaan Pra Islam, Islamisasi, Tokoh Pendirinya

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI BANTEN


A. KEADAAN BANTEN PRA ISLAM
Daerah Banten memiliki beberapa data arkeologi dan sejarah dari masa sebelum Islam masuk ke daerah ini, sumber data arkeologi menujukan bahwa sebelum Islam masyarakat Banten hidup pada masa tradisi prasejarah dan tradisi Hindu-Buddha. Tradisi prasejarah ditandai oleh adanya alat-alat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan yang mereka anut, demikian pula dengan masa kehidupan Hindu dan Buddha ditandai oleh peninggalan Hindu masa itu berupa prasasti arca Nandi dan benda-benda arkeologi lainnya, serta naskah-naskah kuno yang mencatat keterangan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu.
Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang, dolmen dan patung-patung simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes, kubur tempayan di Anyer, kapak batu di Cigeulis, batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk dan lain sebagainya.Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten. Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah Pamarayan, Kopo Pandeglang, Cikupa, Cipari dan Babakan Tanggerang. Selain bukti arkeologi berupa arca Siwa dan Ganesha ini belum ada lagi data sejarah yang cukup kuat untuk menunjang keberadaan kerajaan Salakanagara ini yang lebih jelas, adapun prasasti Munjul yang ditemukan terletak disungai Cidanghiang. Lebak Munjul Pandegalng adalah prasasti yang bertuliskan Pallawa dengan bahasa Sangsekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman, ini berarti bahwa daerah kekuasaan Tarumanegara sampai juga ke daerah Banten, karena kerajaan Tarumanegara pada masa itu berada dalam keadaan makmur dan jaya. Pada awal abad ke XVI, di Banten yang berkuasa adalah Prabu Pucuk Umun, dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang sedangkan Banten Lama hanyalah berfungsi sebagai pelabuhan saja.Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten, dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari. Tapi disamping itu pula masih ada jalan darat yang dapat dilalui yaitu melalui jalan Kelapa Dua.
B. LATAR BELAKANG ISLAM DI BANTEN
Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah, pada tahun 1525 M dan 1526 M. Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Islam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. Pada tahun 1475 M, beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten, dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin. Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa, syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin, di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. Pulosari, G. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam.
Karena semakin besar dan maju daerah Banten, maka pada tahun 1552 M, Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. Pada tahun 1568 M, saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang, Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka, lepas dari pengaruh Demak atau pun Panjang. Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam, banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar, sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten. Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf.
Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten. Pengaruh yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik, pendidikan, kebudayaan dan ekonomi di masa itu.
C. PROSES ISLAMISASI.


Proses perluasan Islam di Banten lebih banyak dikisahkan melalui gerbang Jawa Barat yakni Cirebon. Proses ini menjadi mungkin karena kondisi kekuasaan politik yang kuat waktu itu di Jawa adalah Jawa Tengah. Tetapi islamisasi Indonesia melalui pintu barat. Oleh karena itu mempunyai kemungkinan besar bila masuknya islam dari pintu gerbang Barat. Dalam hal ini mungkin dari pelabuhan Sunda Kelapa ataupun Banten. Perlu ditambahkan disini bahwa penyebaran Islam melalui jalur perniagaan, sehingga tidak pernah terjadi agresi militer maupun agama. Dalam penyebaran ini Islam tidak mengenal adanya organisasi missi ataupun semacam zending. J.C Van Leur dalam hal ini menjelaskan bahwa setiap pedagang Islam merangkap sebagai da’i. Itulah sebabnya masuk dan meluasnya Islam di Indonesia melalui jalur perniagaan.


D. PENDIRI AGAMA ISLAM DI BANTEN


1. FATAHILAH ( WAFAT PADA TAHUN 1570 )


Kerajaan Banten muncul ketika seorang anak muda Pasai keturunan Makkah yang datang ke Demak untuk mengabdi kepada Sultan Trenggono. Dia diangkat menjadi panglima perang, dan mendapat hadiah menikah dengan adik nya Sultan Demak. Dia adalah panglima perang dalam penaklukan kota Banten yang di kuasai oleh Portugis yaitu Syarif Hidayatullah atau Maulana Nuruddin Ibrahim. Dia adalah ayah dari Sultan Hasanuddin Raja pertama dari kerajaan Banten. Dia juga peletak dasar pengembangan agama Islam dan kerajaan Islam serta bagi pedagang orang – orang di sana. Keberhasilan nya menaklukan kota Banten maka dia mendapat gelar dari Sultan Trenggono yaitu Fatahilah dan oleh bangsa Portugis di sebut Falatehan. Dalam kemenangan ini dia mensyukuri dengan memberi nama baru, Kota Sunda Kelapa dengan Jayakarta yang artinya kemenangan. Dalam eksfedisi nya dia memilih yang pertama agar jalan menjadi lancar. Dia berhasil dengan gilang-gemilang yang arti nya kota itu sangat penting karena sebagai batu loncatan untuk menancapkan kaki ke pantai sebelah selatan Sumatera (Lampung dan Palembang).[1]
Dalam masa kepemimpinan nya, Fatahilah mencanang kan menguasai kunci-kunci kota dan menyebar kan agama Islam dimana kota yang ia duduki. Semua yang Fatahilah canangkan mencapai pada puncak kesuksesan walaupun beribu halangan tetapi tidak membuat dia gentar. Dia juga tidak menguasai kota Banten tetapi juga Jakarta, Cirebon dan juga mendapat sebutan penguasa besar Jawa Barat. Kerajaan yang dia duduki masih di bawah naungan Kerajaan Demak. Dan dia juga berjasa menjadikan pelabuhan Banten ramai di datangi saudagar-saudagar dari luar negeri sehingga ekonomi rakyat makmur, dalam penyebaran agama sukses.

Fatahilah wafat pada tahun 1570 M. Dia menyerahkan kepemimpinan nya kepada putera nya Hasanuddin, tapi sebelumnya dia sudah mengundurkan diri dari kerajaan dan mendirikan sebuah tempat pendidikan yang bernama Gunung Jati (Cirebon) dan di bukit itu pula dia di makam kan.[2]


2. SULTAN MAULANA HASANUDDIN ( 1552-1570 M )


Sultan Maulana Hassanudin memerintah sebagai raja pertama Kesultanan Banten dari tahun 1552 M hingga wafatnya di tahun 1570 M. Pada masa pemerintahannya, digambarkan kota Banten telah berkembang sangat pesat. Jumlah penduduk diperkirakan telah mencapai 70.000 jiwa. Terletak di pertengahan pesisir teluk Banten, Kota yang dikenal dengan nama Surosowan ini memiliki panjang 400 hingga 850 depa. Kota Banten dilewati sungai jernih yang dapat dilalui oleh kapal jung dan gale. Kota Banten dikelilingi benteng bata setebal tujuh telapak tangan. Bangunan-bangunan pertahanan dua lantai terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan meriam. Di tengah kota terdapat alun alun yang digunakan untuk kegiatan ketentaraan, kesenian rakyat dan juga sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di sisi selatan alun alun, disampingnya dibangun bangunan datar yang ditinggikan dan diatapi yang disebut srimanganti, sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Di sebelah barat alun alun dibangunlah Masjid Agung Banten.
Sultan Hassanudin dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten lebih menitik beratkan pada pengembangan sektor perdagangan, disamping memperluas lahan pertanian dan perkebunan. Pada masa pemerintahannya, Banten telah menjadi pelabuhan utama di Nusantara, sebagai persinggahan utama dan penghubung pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dengan kerajaan kerajaan di Nusantara. Cara jual beli saat itu, masih menggunakan sistem barter, dan juga sudah mulai digunakan mata uang sebagai alat tukar. Mata uang yang digunakan adalah Real Banten dan cash cina (caxa). Terjadinya krisis kepemimpinan di Kesultanan Demak pada tahun 1547-1568 M, mendorong Sultan Hassanudin untuk melepaskan diri dari Kesultanan Demak dan menjadikan Banten kerajaan yang berdiri sendiri. Saat itu, wilayah Kesultanan Banten telah meliputi Banten, Jayakarta, Kerawang, Lampung, Inderapura, sampai Solebar. Dan itulah sebabnya dia di anggap sebagai raja Islam pertama di Banten.[3]


Sultan Hassanudin wafat tahun 1570 M dan dimakamkan di samping Masjid Agung. Setelah wafatnya, Maulana Hassanudin dikenal dengan sebutan Sedakinking. Sebagai penggantinya, dinobatkanlah Pangeran Yusuf sebagai Raja Banten ke 2.
3. SULTAN MAULANA YUSUF (1570-1580 M)
Pada masa kepemerintahan Sultan Maulana Yusuf, strategi pembangunan dititik beratkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Pada saat itu, perdagangan sudah sangat maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang barang dari seluruh dunia yang nantinya akan disebarkan ke seluruh nusantara. Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa. Ramainya kota baru ini dengan penduduk pribumi maupun pendatang membuat diberlakukannya aturan penataan dan penempatan penduduk berdasarkan keahlian dan asal daerah penduduk. Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota, seperti Pekojan yang diperuntukan bagi pedagang muslim dari kawasan Arab ditempatkan di sebelah barat pasar Karangantu, Pecinan yang diperuntukan bagi pendatang dari Cina ditempatkan di sebelah barat Masjid Agung, di luar batas kota. Penataan pengelompokan pemukiman ini selain bertujuan untuk kerapian dan keserasian kota juga untuk kepentingan keamananan, dan merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota. Selain penataan pemukiman, juga dilakukan perkuatan dan penebalan tembok keliling kota dan tembok benteng sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit parit disekelilingnya. Perbaikan Masjid Agung juga dilakukan dan penambahan bangunan menara dengan bantuan Cek Ban Cut, arsitek muslim asal Mongolia.
Untuk kepentingan irigasi bagi persawahan yang berada di sekitar kota dan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kota Surosowan, di buatlah danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian disalurkan ke daerah daerah sekitar danau. Dengan melalui pipa-pipa terakota, setelah diendapkan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih, air yang sudah jernih dialirkan ke keraton dan tempat tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan ini juga dibuat pulau kecil yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga keraton.Pada tahun 1579 M Pasukan Banten di bawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf berhasil merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran dan menguasai seluruh wilayah bekas kerajaan Pajajaran. Raja terakhir yang memerintah Kerajaan Pajajaran adalah Raga Mulya atau Prabu Surya Kencana, yang juga dijuluki Prabu Pucuk Umun atau Panembahan Pulosari, karena pada akhir masa kepemerintahannya berkedudukan di gunung Pulosari, Pandeglang. Benteng Pulosari dapat dikuasai oleh Sultan Maulana Yusuf pada tanggal 8 Mei 1579/11 Rabiul Awal 987 H. Setelah berhasil dikalahkan, seluruh punggawa kerajaan Pajajaran diislamkan dan dibiarkan kembali memangku jabatannya sehingga dapat menjamin stabilitas keamanan di seluruh wilayah Banten.


Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan sekarang, dan karenanya beroleh gelar Pangeran Panembahan Pakalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai pengganti, diangkatlah putranya, Pangeran Muhammad yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun.[4]




4. SULTAN MAULANA MUHAMMAD (1580-1596)


Keadaan Banten padamasa Sultan Maulana Muhammad dapat diketahui berdasarkan kesaksian Willem Lodewycksz yang mengikuti Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten tahun 1596. Dari catatan mereka diketahui bahwa Kota Banten mempunyai tembok tembok yang lebarnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Diperkirakan besarnya sebesar kota Amsterdam tahun 1480 M dan orang dapat melayari seluruh kota Banten melalui banyak sungai. Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk. Transaksi perdagangan di pasar ini berjalan mudah karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal. Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang saleh. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam, beliau banyak mengarang kitab agama Islam dan membangun masjid hingga ke pelosok negeri. Sultan juga menjadi khatib dan imam untuk setiap shalat Jum’at dan Hari Raya. Pada masa kepemimpinannya, Masjid Agung diperindah dengan melapisi dinding dengan keramik dan kolomnya dengan kayu cendana, untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawastren atau pawadonan.


Sultan Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 pada saat penyerangan ke Palembang, perang yang dimulai akibat bujukan Pangeran Mas, keturunan dari Kerajaan Demak yang ingin menjadi Raja Palembang. Sultan tertembak ketika memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri di Sungai Musi. Sultan Maulana Muhammad wafat di usia 25 tahun, dimakamkan di serambi Masjid Agung dan beroleh gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana. Sultan meninggalkan putra yang baru berusia lima bulan, yaitu Abul Mafakhir, yang ditunjuk sebagai penggantinya


5. SULTAN ABUL MAFAKHIR (1596-1651 M)


Sultan Abul Mafakhir yang baru berusia lima bulan, untuk menjalankan roda pemerintahan maka ditunjuklah Mangkubumi Jayanegara, seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam pemerintahan sebagai walinya. Masa awal pemerintahan Sultan yang masih balita ini merupakan masa masa pahit dalam sejarah Kesultanan Banten karena banyaknya perpecahan dalam keluarga kerajaan, dengan berbagai kepentingan yang berbeda serta keinginan untuk merebut tahta kerajaan. Pada saat Mangkubumi Jayanegara wafat di tahun 1602 M, perwalian dikembalikan ke ibunda sultan, Nyai Gede Wanagiri. Nyai Gede Wanagiri yang telah menikah kembali, mendesak agar suami barunya ditunjuk sebagai Mangkubumi. Mangkubumi yang baru ini, dalam kenyataannya banyak menerima suap dari pedagang asing, sehingga tidak memiliki wibawa dan keputusannya lebih banyak tidak ditaati. Kekacauan di dalam negeri semakin membesar dan tidak dapat ditangani karena Mangkubumi lebih sibuk mengurus keributan yang ditimbulkan oleh pedagang Belanda dengan pedagang Inggris, Portugis, maupun pedagang dalam negeri.


Puncak dari kekacauan itu adalah dibunuhnya Mangkubumi, yang memicu terjadinya perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Pailir, yang terjadi di tahun 1608 – 1609 M. Perang untuk memperebutkan tahta yang dilancarkan oleh Pangeran Kulon, saudara sultan lain ibu ini, dapat dihentikan atas usaha Pangeran Jayakarta hingga dibuat perjanjian perdamaian antara semua pihak. Salah satunya adalah diangkatnya Pangeran Ranamanggala sebagai Mangkubumi dan wali dari sultan muda, semenjak itu Banten menjadi aman kembali. Pangeran Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf, saudara beda ibu dengan Sultan Maulana Muhammad. Selama menjabat sebagai Mangkubumi, tindakan utama yang diambil adalah mengembalikan stabilitas keamanan Banten dan menegakan peraturan untuk kelancaran pemerintahan, yang bahkan Sultan sendiri tidak diperkenankan untuk ikut campur. Dengan cara demikian, Banten dapat terselamatkan dari kehancuran akibat rongrongan dari dalam maupun luar negeri. Mangkubumi dalam menghadapi bangsa asing tidak berat sebelah atau memihak pihak manapun. Beberapa kebijakan penting yang diambil :
Penghapusan keharusan bagi pedagang Cina untuk menjual lada kepada pedagang Belanda
Penetapan pajak ekspor lada dan pajak impor bagi barang barang yang sebelumnya tidak terkena pajak
Pemberlakuan pajak yang lebih tinggi bagi pedagang dari Belanda. Hal ini dilakukan agar pedagang dari Belanda tidak berniaga di Banten karena perilaku pedagang Belanda yang kasar dan mau mencampuri urusan pemerintahan dan dalam negeri Banten.
6. SULTAN AGENG TIRTAYASA (1651-1682 M)
Pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa, Banten merupakan Kesultanan Nusantara yang mempunyai hubungan internasional, baik dengan Kesultanan Aceh yang mendapat gelar Serambi Makkah atau pun Kesultanan Mughal di India. Bahkan, Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar Sultan Haji karena ia menunaikan ibadah haji, gelar yang pertama kali di miliki raja Jawa. Baru pada tahun 1645 M raja Mataram dan selanjutnya di susul raja Makasar, keduanya mendapat gelar Sultan. Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, kerajaan Banten adalah kerajaan yang paling ketat melaksana kan hukum Islam. Di masa Sultan Ageng, di berlakukan hukum potong tangan kanan selanjutnya potong tangan kiri untuk pencurian harta secara berturut-turut senilai sekurang-kurang nya satu gram emas.[5] Sultan Ageng mempunyai mufti Syaikh Yusuf al-Makasari yang melihat dari nama nya, berasal dari Makasar. Sejak muda, Sultan Ageng (yang waktu itu masih putra mahkota) bersahabat dengan Muhammad Yusuf yang sesudah belajar di kampungnya sendiri di Makasar, singgah di Banten dan kemudian belajar ke Aceh selanjutnya ke Makkah selama ± 30 tahun. Sekembalinya di Indonesia, Kerajaan Makassar telah di kalah kan oleh Belanda, maka Yusuf yang telah menjadi ulama besar di minta untuk menjadi mufti di Banten sekaligus menjadi menantu sahabat nya, Sultan Ageng Tirtayasa. Di Banten, selain melaksanakan hukum potong tangan terhadap pencuri juga menghukum orang yang menggunakan opiumdan tembakau. Hukuman berat juga di laksanakan terhadap pelaku pelanggaran seksual.
Demikian lah keberagaman kerajaan Banten beserta pelaksanaan syariat Islam kelihatan lebih ketat di bandingkan kerajaan Islam lain nya di Jawa. Ini terjadi karena Banten yang mempunyai hubungan internasional dengan Negara Islam besar, sehingga menjadi tempat persinggahan dan transaksi perdagangan internasional. Bangsa lain yang berdagang di Banten antara lain Persia, Arab, Keling, Koja, Pegu, Cina, Melayu. Walaupun kedudukan Banten nanti kalah dengan Jayakarta (yang kemudian menjadi Batavia) yang di jadikan pusat perdagangan oleh Belanda, sehingga Banten menjadi mundur, Sultan Ageng di tawan Belanda, Syaikh Yusuf di buang, tetapi pelaksanaan syariat Islam masih tetap ketat. Ketika pada tahun 1813 Kesultanan Banten di bumihanguskan oleh Daendels, keturunan Sultan Ageng masih terus mengembang kan syariah Islam, salah seorang di antaranya adalah Al-Nawawi al-Bantani (1813-1897 M)[6] yang melahirkan murid-murid yang menjadi ulama-ulama besar di Jawa, di antara nya:
· K.H. Hasyim Asyari, Pendiri NU Tebuireng
· K.H. Asyari, Bawean, menantu Nawawi
· K.H. Ilyas, Keragilan Serang
· K.H Abd. Gaffar, Tirtayasa, Serang, dll.
Walaupun kelak Banten sebagai Kesultanan resmi telah hancur, tetapi keturunannya di luar istana tetap mengembang kan berbagai kegiatan agama baik mendiri kan pesantren ataupun pengiriman putra-putrinya memperdalam ilmu agama ke Makkah. Oleh karena itu, Snouck Hurgronje menyebut penduduk Banten lebih taat dalam melaksanakan kewajiban agamanya di bandingkan orang Jawa lainnya.[7]




[1] Hamka, Sejarah Umat Islam IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1976, hlm. 185.
[2] H. J. De Graff dan TH. Pigeud, kerajaan Islam Pertama di Jawa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001, hlm 133-134
[3] Hamka, Sejarah Umat Islam IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1976, hlm. 186.
[4] http://sejarah-peradaban-islam-di-banten.html


[5] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta, 2004, hlm. 142
[6] Rifa’I Hasan, Warisan Intelektual Islam Indonesia, Telaah Atas Karya Klasik, Bandung: Mizan, 1987, hlm. 39.
[7] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta, 2004, hlm. 145




Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel