Cara Kerja Penghantar Katup

Cara Kerja Penghantar Katup

Penghantar Katup 
Penghantar katup adalah merupakan hal penting dalam konstruksi cylinder head. Penghantar katup untuk menjamin kerja katup bekerja dengan benar terhadap dudukannya, sehingga tidak terjadi kebocoran antara katup dengan dudukannya. 
Ada 2 cara mengukur keausan antara penghantar katup dengan batang katup. Menempatkan Dial Indikator pada cylinder head dengan mengarahkan jarum pada kepala katup atau ujung batang katup, kemudian gerakkanlah katup dari satu sisi lainnya dan bacalah pergeseran jarum indikator pada skalanya. Metoda ini akan memberi hanya cekag antara penghantar dengan batang katup, tidak dapat diketahui keausannya, lihat Gambar 1 dan 2.Untuk pengukuran yang lebih tepat adalah dengan menggunakan telescopic gauge dan micometer.

Gambar 1 : DTI Pada Cylinder Head

 

Gambar 2 : DTI Ujung Batang Katup

 

Terdapat dua jenis penghantar katup yang digunakan pada motor bensin yaitu penghantar Integral dan penghantar yang disisipkan dapat dilepas. 
Penghantar katup integral atau yang tidak dapat dilepas digunakan pada cylinder head dengan bahan besi tuang kelabu, dimana penghantar secara bersama-sama dicetak menjadi satu kesatuan sebagai bagian dari cylinder head original. 
Keuntungan penghantar katup instegral : Penghantar integral secara menyatu di cetak bersama cylinder head, oleh karena itu perpindahan panas dari katup ke air pendingin sangat efisien. Cylinder head yang terbuat dari besi tuang kelabu tingkat keausan penghantar katupnya lebih baik. 

Mereklamasi (Rekondisi) penghantar katup integral dapat dilakukan dalam 3 metoda. Diameter dalam penghantar katup di rimer dan menggunakan batang katup yang oversize. Lihat Gambar 3.Untuk mengembalikan ukuran penghantar katup dapat dilakukan dengan memberi sleeve yang baru, umum sebelumnya penghantar katup terlebih dahulu di rimer, selanjutnya boss yang baru dimasukkan ke dalam penghantar yang telah di rimer, dengan cara menekan dengan tepat, selanjutnya boss yang baru dirimer dengan 3 tingkatan/tahapan hingga di dapat celah antara batang katup dengan penghantar katup dengan tepat sesuai spesifikasi. (lihat gambar 4)

 

Gambar 3 : Merimer Penghantar Katup

 

Gambar 4 : Pelumasan Pada Penghantar Katup

 

Catatan : 
Beberapa pabrik membuat celah antara penghantar katup dengan batang katup lebih kecil untuk katup masuk dibandingkan katup buang, hal ini karena katup buang mempunyai temperatur kerja yang lebih tinggi dibandingkan katup masuk. 

Penghantar Katup yang Dapat Dilepas 
Penghantar katup yang dapat dilepas digunakan pada cylinder head yang terbuat dari bahan aluminium, seperti diketahui aluminium adalah bahan yang lunak dan umur pemakaian penghantar katup lebih pendek. Untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan penghantar katup dari bahan baja. 
Sebelum melepas penghantar katup, terlebih dahulu diteliti dari kerusakan seperti coakan terbakar, atau timbunan karbin, karena hal ini dapat merusak lubang saat penghantar katup dilepas. 
Cylinder head harus dipanaskan terlebih dahulu hingga kira-kira 90oC. Setelah tercapai temperatur tersebut selanjutnya lepaskanlah penghantar katup dengan cara menekan dengan pendorong khusus lihat Gambar 5 dan 6. 

 

Gambar 5 : Memanaskan Cylinder Head

 

Gambar 6 : Mendorong Penghantar Katup

Salah satu cara memasang kembali penghantar katup adalah dengan menyakinkan bahwa lobang penghantar katup sudah benar-benar bersih dan dibersihkan dalam temperatur 90oC, selanjutnya oleskan oli ringan pada penghantar katup, kemudian masukkanlah ke lubangnya pada cylinder head dengan alat pendorong hingga pada posisi yang tepat. 
Penghantar katup yang dapat dilepas juga dapat diperbaiki dengan cara kmurling atau menggunakan bushing pelat tipis, namun yang menjadi masalah umum adalah terjadi keretakan. 
Celah antara batang katup terhadap penghantarnya yang tidak cukup akan mengakibatkan pelumasan yang kurang, hal ini dapat merusak batang katup. 
Celah yang terlalu besar antara batang katup dengan penghantarnya akan menyebabkan oli bocor melewati katup dan masuk ke ruang bakar maka akan mengakibatkan asap, timbunan karbon pada katup, ruang bakar dan kepala piston. 
Apabila celah antara penghantar dengan batang katup melebihi toleransi/ spesifikasi maka seal katup tidak dapat mengontrol oli yang mengalirinya.




Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel