Perkembangan Arsitektur Tradisional di Nusantara / Indonesia


Perkembangan Arsitektur Tradisional di Nusantara

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Bangunan adalah produksi manusia yang paling kasat mata. Namun, kebanyakan bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau tukang-tukang batu di negara-negara berkembang, atau melalui standar produksi di negara-negara maju. Arsitek tetaplah tersisih dalam produksi bangunan. Keahlian arsitek hanya dicari dalam pembangunan tipe bangunan yang rumit, atau bangunan yang memiliki makna budaya / politis yang penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur. Peran arsitek, meski senantiasa berubah, tidak pernah menjadi yang utama dan tidak pernah berdiri sendiri.
 

Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan sang arsitek. Dan hasilnya adalah sebuah dialog yang dapat dijuluki sebagai arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu. Pengaruh arsitektur Modern, International style dsbg membuat Arsitektur di Tanah Air seakan tak berwarna lagi, sulit membedakan elemen-elemen tradisional yang melekat pada hunian maupun banguna lokal pada umumnya.Entah melalui kajian yang mendalam tentang lingkungan dan kebudayaan lokal atau tidak, yang jelas warna Arsitektur Tanah air lambat laun tak ada beda dengan warna Arsitektur di daerah lain.
 

Arsitektur tradisional adalah suatu bangunan yang  bentuk,struktur ,fungsi,ragam hias dan cara pembuatannya diwariskan secara turun temurun serta dapat di pakai untuk melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya.  Dalam rumusan arsitektur dilihat sebagai suatu bangunan, yang selanjutnya dapat berarti sebagai suatu yang aman dari pengaruh alam seperti hujan, panas dan lain sebagainya. Suatu bangunan sebagai suatu hasil ciptaan manusia agar terlindung dari pengaruh alam, dapatlah dilihat beberapa komponen yang menjadikan bangunan itu sebagai tempat untuk dapat melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya. Adapun komponen-komponen tersebut adalah : bentuk, struktur , fungsi, ragam hias serta cara pembuatan yang diwariskan secara turun temurun. Selain komponen tersebut yang merupakan faktor utama untuk melihat suatu arsitektur tradisional, maka dalam inventarisasi dan dokumentasi ini hendaknya setiap bangunan itu harus merupakan tempat yang dapat dipakai untuk melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dengan memberikan pengertian ini, maka arsitektur tradisional dapat pula dikategorikan berdasarkan kepada aktivitas yang ditampungnya.
 

Latar sejarah, perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta akan dapat dilihat dari latar belakangsejarah ketiga daerah yang diambil sebagai lokasi penelitian.

Jenis-jenis bangunan , dalam bab pendahuluan telah disinggung, bahwa arsitektur tradisional adalah suatu bangunan atau tempat tinggal ciptaan manusia yang pembuatannya diwariskan secara turun temurun untuk melakukan aktivitas mereka. Jadi sudah barang tentu dalam hal ini pengamatannya dalam beberapa segi perlu melepaskan diri dari arsitektur modern. Bangunan tradisional yang kita lihat sekarang ini perkembangannya melalui suatu proses yang panjang . Pada mulanya bangunan tradisional berfungsi sebagai suatu tempat berlindung manusia dari gangguan binatang buas dan gangguan alam seperti panas, dingin, hujan dan angin. Perkembangan selanjutnya bersamaan dengan cara hidup mereka, yaitu dari hidup berpindah-pindah atau “nomad” sampai hidup secara menetap. Dalam sistem hidup manusia yang berpindah-pindah, bangunan tersebut hanya berupa tempat yang berpindah-pindah, bangunan tersebut hanya berupa tempat berlindung untuk sementara. Tetapi pada suatu saat bangunan itu akan merupakan suatu tempat tinggal atau rumah, manakala manusia itu sudah hidup secara mentap. Hasil produksi rupa-rupanya mempengaruhi pola hidup di suatu tempat. Kalau hasil produksi tersebut melimpah, manusia akan mengucapkan terimakasih dan mengadakan upacara –upacara dan doa bersama-sama. Tetapi sebaliknya, seandainya hasil produksi tersebut gagal, mereka menganggap bahwa mereka tidak mendapat restu dan murka dari tuhan.Rumah tempat tinggal dari masa ke masa mengalami proses perkembangan bentuk. Hal ini disebabkan adanya kebutuhan hidup yang lebih luas dan yang akhirnya membutuhkan tempat yang lebih luas pula. Sejalan dengan ini berkembangnya pula kebudayaan. Oleh karena itu rumah tempat tinggal juga berkembang sesuai dengan proses terbentuknya suatu kebudayaan, yaitu dari taraf yang sederhana ke taraf yang lebih kompleks.
            

Berdasarkan sejarah perkembangan  bentuk, rumah tempat tinggal dibagi menjadi 4 macam yaitu, “panggangpe”, “kampung”, “limasan” dan “joglo”. Sedang bentuk “tajug” tidak dipakai untuk rumah tempat tinggal tetapi untuk rumah ibadah atau rumah pemujaan. Sehubungan dengan itu dalam uraian berikut akan dikemukakan berturut-turut bentuk rumah “panggangpe”, “kampung”, “limasan” dan “joglo”. Nama-nama bentuk tersebut sebenarnya merupakan nama-nama atap rumah tradisional yang menyangkut sebanyak 5 macam, yaitu :

    Panggangpe merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana dan bahkan merupakan bentuk bangunan dasar. Bangunan panggangpe ini merupakan bangunan yang pertama dipakai orang untuk berlindung dari gangguan angin, dingin, panas matahari dan hujan.
    

Kampung, bangunan yang setingkat lebih sempurna dari “panggangpe” adalah bentuk bangunan yang disebut “kampung”. Bangunan pokoknya terdiri atas “saka-saka” yang berjumlah 4, 6 atau bisa juga 8 dan seterusnya.
    

Limasan, bentuk bangunan ini merupakan perkembangan kelanjutan bentuk bangunan yang ada sebelumnya. Kata “limasan” ini diambil dari kata “lima-lasan” yakni pehitungan sederhana penggunaan ukuran-ukuran :” molo” 3m dan “blandar” 5m.
   

 Joglo lebih sempurna dari bangunan-bangunan sebelumnya. Bentuk bangunan ini mempunyai ukuran lebih besar bila dibandingkan dengan bentuk bangunann lainnya seperti “panggangpe”, “kampung” dan “limasan.
    

Susunan ruangan yang terdapat dalam rumah tradisional bergantung kepada besar kecilnya rumah itu dan bergantung kepada kebutuhan keluarga. Jadi makin banyak anggota keluarga itu makin banyak ruangan yang dibutuhkan.

R.Soekmono (1997) seorang ahli percandian Indonesia pernah mengadakan tinjauan ringkas terhadap bangunan candi di Jawa, dinyatakan bahwa bangunan candi di Jawa mempunyai dua langgam, yaitu Langgam Jawa Tengah dan Langgam Jawa Timur. Menurutnya Langgam Jawa Tengah antara lain mempunyai ciri penting sebagai berikut:
 

(a) bentuk bangunan tambun,
(b) atapnya berundak-undak,
(c) gawang pintu dan relung berhiaskan Kala-Makara,
(d) reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis, dan
(e) letak candi di tengah halaman.

Adapun ciri candi Langgam Jawa Timur yang penting adalah:
-  bentuk bangunannya ramping,
-  atapnya merupakan perpaduan tingkatan,
 - Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala Kala,
- reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, dan
- letak candi bagian belakang halaman (Soekmono 1997:86).
 

Demikian ciri-ciri penting yang dikemukakan oleh Soekmono selain ciri-ciri lainnya yang sangat relatif sifatnya karena berkenaan dengan arah hadap bangunan dan bahan yang digunakan. Sebagai suatu kajian awal pendapat Soekmono tersebut memang penting untuk dijadikan dasar pijakan selanjutnya manakala hendak menelaah tentang langgam arsitektur bangunan candi di Jawa. Sebenarnya setiap butir ciri yang telah dikemukakan oleh Soekmono dapat dijelaskan lebih lanjut sehingga menjadi lebih tajam pengertiannya. Misalnya bentuk bangunan tambun yang dimiliki oleh candi Langgam Jawa Tengah, kesan itu terjadi akibat adanya bagian lantai kaki candi tempat orang berjalan berkeliling memiliki ruang yang lebar, dengan istilah lain mempunyai pradaksinapatha yang lebar. Bentuk bangunan tambun juga terjadi akibat atap candi Langgam Jawa Tengah tidak tinggi, atapnya memang bertingkat-tingkat, dan hanya berjumlah 3 tingkat termasuk kemuncaknya. Dibandingkan dengan candi Langgam Jawa Timur jumlah tingkatan atapnya lebih dari tiga dan berangsur-angsur tiap tingkatan tersebut mengecil hingga puncaknya, begitupun pradaksinapathanya sempit hanya muat untuk satu orang saja, oleh karena itu kesan bangunannya berbentuk ramping.




Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel